Rabu, 25 Mei 2016

INDONESIA TERUS PERKUAT INDUSTRI HILIR CPO




Optimisme di kalangan industri sawit di tengah melemahnya perekonomian global serta sejumlah hambatan non perdagangan di negara tujuan ekspor yang siap menghadang, ibarat gayung bersambut ketika pemerintah berencana terus memperkuat industri hilir minyak sawit. Harus diakui, selama ini Indo nesia banyak fokus di industri hulu. Hanya menghasilkan buah sawit dan kemudian diproses jadi CPO, sehingga kurang memberikan nilai tambah.

Kementerian Perindustrian sudah menegaskan siap memperkuat industri hilir di segala sektor. Penajaman ini rencananya akan diba has pada Rapat Kerja Kemenperin yang akan digelar pekan ini. "Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, kami akan memperkuat industri hi lir," kata Sekjen Kemenperin Syarif Hidayat dikutip Kantor Berita Antara. Dalam kesempatan itu, Kementerian Perindustrian juga akan menyusun peta jalan industri hilir, yang merangkum rencana secara sistematis proses nilai tambah produk industri mulai dari hulu hingga ke hilir.

Khusus industri sawit saat ini sedang disiapkan pembangunan tiga kawasan industri khusus pengolahan sawit. Pemerintah telah menetapkan tiga kawasan industri yang khusus mengelola industri hilir produk minyak sawit sebagai hasil kesepakatan Palm Oil Industrial Zone (POIZ) dengan Malaysia.

Kantor Berita Antara melansir pernyataan Dirjen Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto, yang menyebut kesepakatan POIZ dilakukan sebagai upaya kedua negara untuk menguasai pasar produk hilir minyak sawit di Asia, antara lain berupa oleokimia. Sedangkan ketiga kawasan dimaksud adalah Kawasan Industri Sei Mangke, Sumatera Utara yang dikelola PTPN III, Kawasan Industri Dumai di Riau yang dikelola Grup Wilmar, dan Kalimantan Timur Industrial Estate (KTIE) yang dikelola PT Pupuk Kaltim.

Industri minyak sawit nasional sesungguhnya sejak beberapa tahun lalu sudah mulai bergerak pada industri hilir. Bahkan selama 2015 lalu, upaya memperkuat industri hilir minyak sawit tersebut mulai memperlihatkan hasil. Peneliti Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia Erna Zetha Rusman, seperti dikutip Kantor Berita Antara, memaparkan hasil penelitian yang membuktikan keberhasilan tersebut.

Dalam periode Januari sampai November 2015, industri minyak goreng kelapa sawit merupakan penyumbang devisa terbesar, yaitu sekitar 43,57 persen dari total devisa yang dihasilkan industri makanan. Angka ini dinilai mencerminkan pergeseran penting industri hilir minyak sawit. Pasalnya, pada 2011, industri minyak goreng kelapa sawit hanya me nyum bang sebesar 28,85 persen terhadap total devisa yang dihasilkan industri makanan. "Kondisi tersebut memperlihatkan keberhasilan program industri hilir kelapa sawit," ujar Erna.

Penguatan industri hilir minyak sawit diprediksi mampu memberikan nilai tambah ekspor sehingga bisa pula berharap peningkatan penerimaan devisa dari industri minyak sawit. Apalagi di masa-masa sekarang ini ketika perekonomian global terus dibayangi ketidakpastian. Hanya saja, catatan-catatan miring yang masih mendera industri minyak sawit nasional tentunya tak bisa pula diabaikan. Ancaman kebakaran hutan dan kerusakan lingkungan akibat pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit sangat mungkin terus mengintai. Belum lagi ancaman cuaca ekstrem yang mungkin mengganggu produksi minyak sawit.

Indonesia memang sudah menerapkan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) untuk memastikan minyak sawit Indonesia diproduksi dengan cara ramah lingkungan, tidak memberikan kontribusi terhadap deforestasi, memperhatikan keseimbangan alam, sosial, dan ekonomi masyarakat. Tapi sertifikasi saja belum cukup. Kemampuan mengatasi ancaman-ancaman tersebut, terutama terkait isu lingkungan dan kebakaran hutan, diyakini mampu menepis citra dan kampanye negatif minyak sawit Indonesia dan turunannya di pasar dunia, sekaligus mengikis hambatan perdagangan bagi produk minyak sawit nasional. Harapannya, Indonesia tetap mampu menjadi pemain utama minyak sawit mentah plus produk hilir minyak sawit yang bernilai tambah tinggi di pasar dunia, tanpa cemas dituding tidak ramah lingkungan. 

Selasa, 24 Mei 2016

INDONESIA AKAN MENJADI PRODUSEN OLEOKIMIA DUNIA




Indonesia berpeluang menjadi basis industri hilir minyak sawit terbesar dunia, terutama oleokimia, mengingat predikatnya sebagai produsen minyak sawit mentah terbesar di dunia.
Para Investor utama di industri hulu minyak sawit semakin tertarik untuk berinvestasi di hilir. Pemain utama di hulu sudah mulai masuk ke hilir seperti Wilmar, Sinarmas, Musim Mas, Asian Agri, bahkan Unilever juga masuk.
Pemberlakuan bea keluar yang progresif terhadap ekspor minyak sawit mentah dituding menjadi alasan terjadinya migrasi ini. Alasannya karena adanya pemberlakuan tarif ekspor minyak sawit mentah yang progresif membuat semakin banyak pelaku bisnis yang semula fokus di hulu mengalihkan usahanya di sektor hilir, di bisnis oleokimia,
Industri oleokimia sendiri merupakan industri lanjutan pengolahan minyak sawit mentah (CPO) menjadi aneka produk kimia bernilai tambah tinggi seperti fatty acid, fatty alcohol, glyserin dan methyl ester.
Produk kimia tersebut merupakan bahan baku dasar untuk industri perawatan tubuh seperti sabun mandi, sampo, kondisioner, deterjen, makanan, plastik, farmasi dan juga pelumas.
Kapasitas oleokimia Indonesia sudah melebihi Malaysia pada 2012, saat itu kapasitas Malaysia 1,9 juta ton sedangkan Indonesia lebih dari 2 juta ton. "Untuk 2013 dan 2014 kapasitas kita  lebih dari 3 juta ton, 2015 lebih dari 4,5 juta ton. Dan 2016 diprediksi akan naik lebih dari 10%.
Sebagian besar produk oleokimia Indonesia adalah untuk ekspor yang mencapai 80% dari total produksi. Sementara itu, di Indonesia sendiri, produk oleokimia lebih banyak digunakan untuk industri ban dan detergen.
Kinerja industri oleokimia nasional dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Hal ini disebabkan oleh tarikan pasar atau market pull dan dukungan kebijakan pemerintah atau regulation push.
Saat ini, Malaysia masih dianggap sebagai tolak ukur konstelasi industri oleokimia global karena tingginya penguasaan teknologi dan integrasi industri dari hulu ke hilir. Oleh karena itu, seharusnya Indonesia mampu menggeser posisi Malaysia tersebut.
Kita harus mengubah mindset yang semula mengandalkan produksi minyak sawit mentah menjadi produsen aneka turunan minyak sawit bernilai tambah tinggi salah satunya melalui industrialisasi oleokimia.